Sabtu, 05 Desember 2009

Liburan di ujung Sulawesi

Pernahkah Anda berpikir untuk meninggalkan rutinitas kehidupan dan pekerjaan sehari-hari? Berkunjung ke dunia lain, yang jauh terasing tanpa AC dan kemewahan? Pemandangan alam yang indah mungkin bisa menjadi tujuan Anda untuk menghilangkan kejenuhan dari hiruk pikuk kehidupan kota. Jika itu memang khayalan Anda, coba berlibur ke ujung utara pulau Sulawes. Akan Anda jumpai sebuah tempat yang indah, dengan penginapan yang cukup murah di Pantai Pulisan, Desa Likupang, Manado, Sulawesi Utara.

Sulawesi merupakan tempat yang sangat menarik bagi para pelancong. Semenjak dahulu, keunikan akan flora dan fauna telah membuat Alfred Russel Walace banyak menghabiskan waktunya di Sulawesi dan Maluku, saat melakukan expedisi 8 tahun di Asia Tenggara. Dari hasil karyanya, akan keunikan fauna yang dia telah temui itu, seorang Charles Darwin kemudian mengeluarkan Teori Evolusi yang menggegerkan dunia.

Namun demikian banyak juga yang belum mengetahui keindahan alam Sulawesi ini, terlebih untuk daerah paling ujung di Sulawesi utara. Ujung utara pulau Sulawesi memiliki banyak pantai-pantai indah dengan kombinasi pasir putih dan pasir hitam yang menambah keunikan dibandingkan dengan pantai-pantai pada umumnya. Bukit-bukit yang tinggi dan padang ilalang yang hijau menghiasi pesisir pantai menambah indahnya pesona alam di ujung Sulawesi Utara ini. Selain itu, sering juga dijumpai di malam hari beberapa Penyu Hijau naik kedarat untuk menyimpan telur-telurnya didalam gundukan pasir.

Selain kombinasi pasir hitam dan putih, dibeberapa lokasi dapat dijumpai batu-batu cadas hitam kering yang terbentuk dari lelehan lava. Ini merupakan bukti bahwa pantai berbukit ini dulunya merupakan gunung berapi.

Lokasi pantai Pulisan dapat ditempuh dengan kendaraan dari Menado selama 2 jam perjalanan, namun jika langsung berkendaraan dari Airport Sam Ratulangi hanya butuh waktu 1.15 jam. Karena jaraknya lebih dekar ke airport.

Dari Menado menuju kampung Pulisan kendaraan melaju melalui jalan aspal. Namun setelah melewati desa Likupang, perjalanan selanjutnya akan melewati jalan berbatu. Disepanjang perjalanan menuju kampung Pulisan masih terlihat ayam hutan dan burung-burung hutan berkeliaran dengan bebasnya di balik semak-semak. Mereka berterbangan saat kendaraan kami melewati semak-semak ditempat unggas itu berteduh.

Dari pinggir jalan di desa Pulisan, masih diperlukan waktu berjalan kaki 10-15 menit untuk mencapai lokasi pengingapan yang dikelola oleh seorang antropologist wanita, warga negara Jerman, yang dibantu beberapa penduduk setempat.

Di penginapan ini tersedia 8 bungalow sederhana, tebuat dari kayu. Dilengkapi wc dan kamar mandi. Tidak ada air conditioner. Listrik tenaga diesel dihidupkan dari jam 5 sore hingga jam 10 malam. Makanan dan minuman tersedia, ditempat makan yang terpisah, dengan harga yang murah. Jam makan pagi, siang dan malam sudah ditentukan demikian juga posisi duduk di tempat makan. Menu makanan mayoritas menu penduduk setempat, dan menu makanan favorit setiap hari adalah menu masakan dari ikan laut.

Sungguh sesuatu yang mengejutkan bagi saya ternyata semua tamu disini adalah orang asing, kebanyak dari mereka datang dari Eropa dan sudah tinggal lebih dari seminggu. Kedatangan saya juga cukup mengejut mereka, karena jarang ada orang Indonesia yang menginap ditempat ini. Menurut mereka orang indonesia lebih suka tinggal di hotel yang mewah. Apa iya yah....? Kunjungan saya membuktikan bahwa mereka salah.

Pemandangan ke laut lepas dapat dinikmati sambil bermalas-malasan di depan Bungalow. Dibagian belakang ada jalan kecil menuju bukit yang cukup tinggi, dari atas bukit itu dapat terlihat pemandangan yang begitu indah. Hamparan pantai pasir putih dan gunung Dua Saudara yang merupakan daerah Taman Nasional Gunung Tangkoko. Setiap pagi dan sore hari, saya dan beberapa turis lainnya selalu pergi mendaki bukit untuk mengamati matahari, saat terbit dan terbenam.

Dari atas bukit ini kita dapat mengamati beberapa jenis burung. Pagi hari lebih didominasi oleh burung Gagak Hitam, sedangkan siang hari tampak sekelompok Elang Laut yang terbang melayang mengitari pinggiran bukit. Yang lebih menarik adalah kemunculan burung Ranggong dengan paruh besar dan sayap yang lebar, terbang melintas disisi bukit di pagi dan sore hari. Unik sekali, fenomena penuh fantasy seperti dalam film Jurasic Park.


Penginapan ini menyediakan 2 perahu motor yg dapat dipergunakan untuk diving atau berkunjung ke Taman National Tangkoko untuk mengamati Kuskus di malam hari. Ada beberapa lokasi diving yang baik disini, kadang Dugong masih dapat diketemukan disekitar perairan sini. Tapi saya dan turis lainnya masih tidak beruntung, karena selama penyelaman, mahluk yang langka ini tidak terlihat batang hidungnya.

Jika tidak menyelam, snorkling merupakan kegiatan yg cukup menyenangkan. Saya sempat snorkle di beberapa lokasi dengan pengunjung lainnya. Kadang kami pulang menuju bungalow dengan berjalan kaki meliwati perbukitan yang sangat indah. Walau kondisinya sangat kering karena musim kemarau, pemandangan diperbukitan pantai Pulisan ini sungguh indah dan sangat memukau.

Selain itu, bersama turis lainnya, dengan menggunakan peraho motor, saya berkunjung ke Taman National Tangkoko untuk melihat Tarsius, monyet kecil sebesar kepalan tangan dengan mata besar yang muncul menjelang malam hari. Sungguh suatu pengalaman yang tak terlupakan dapat melihat Tarsius dialam habitatnya.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. Setelah empat hari tiga malam saya tinggal di tempat yang tepencil ini, akhirnya saya harus putuskan untuk berpamitan dengan penghuni setempat untuk kembali ke Jakarta, meninggalkan semua keindahan dan keunikan alam di ujung utara pulau Sulawesi ini.

Pantai Pulisan memang indah... tempat yang layak banget untuk dikunjungi.. sayangnya hanya orang asing saja yang benar-benar menikmati indahnya alam di Ujung Sulawesi Utara ini..

AYO.. teman-teman...!! ditengok jo ngana pe kampung yang indah ini. Jangan sampai dirusak sama orang-orang yang tak bertanggung jawab...


"Si Tou Timou Tumou Tou - Baku beking pande"