Sabtu, 05 Desember 2009

Liburan di ujung Sulawesi

Pernahkah Anda berpikir untuk meninggalkan rutinitas kehidupan dan pekerjaan sehari-hari? Berkunjung ke dunia lain, yang jauh terasing tanpa AC dan kemewahan? Pemandangan alam yang indah mungkin bisa menjadi tujuan Anda untuk menghilangkan kejenuhan dari hiruk pikuk kehidupan kota. Jika itu memang khayalan Anda, coba berlibur ke ujung utara pulau Sulawes. Akan Anda jumpai sebuah tempat yang indah, dengan penginapan yang cukup murah di Pantai Pulisan, Desa Likupang, Manado, Sulawesi Utara.

Sulawesi merupakan tempat yang sangat menarik bagi para pelancong. Semenjak dahulu, keunikan akan flora dan fauna telah membuat Alfred Russel Walace banyak menghabiskan waktunya di Sulawesi dan Maluku, saat melakukan expedisi 8 tahun di Asia Tenggara. Dari hasil karyanya, akan keunikan fauna yang dia telah temui itu, seorang Charles Darwin kemudian mengeluarkan Teori Evolusi yang menggegerkan dunia.

Namun demikian banyak juga yang belum mengetahui keindahan alam Sulawesi ini, terlebih untuk daerah paling ujung di Sulawesi utara. Ujung utara pulau Sulawesi memiliki banyak pantai-pantai indah dengan kombinasi pasir putih dan pasir hitam yang menambah keunikan dibandingkan dengan pantai-pantai pada umumnya. Bukit-bukit yang tinggi dan padang ilalang yang hijau menghiasi pesisir pantai menambah indahnya pesona alam di ujung Sulawesi Utara ini. Selain itu, sering juga dijumpai di malam hari beberapa Penyu Hijau naik kedarat untuk menyimpan telur-telurnya didalam gundukan pasir.

Selain kombinasi pasir hitam dan putih, dibeberapa lokasi dapat dijumpai batu-batu cadas hitam kering yang terbentuk dari lelehan lava. Ini merupakan bukti bahwa pantai berbukit ini dulunya merupakan gunung berapi.

Lokasi pantai Pulisan dapat ditempuh dengan kendaraan dari Menado selama 2 jam perjalanan, namun jika langsung berkendaraan dari Airport Sam Ratulangi hanya butuh waktu 1.15 jam. Karena jaraknya lebih dekar ke airport.

Dari Menado menuju kampung Pulisan kendaraan melaju melalui jalan aspal. Namun setelah melewati desa Likupang, perjalanan selanjutnya akan melewati jalan berbatu. Disepanjang perjalanan menuju kampung Pulisan masih terlihat ayam hutan dan burung-burung hutan berkeliaran dengan bebasnya di balik semak-semak. Mereka berterbangan saat kendaraan kami melewati semak-semak ditempat unggas itu berteduh.

Dari pinggir jalan di desa Pulisan, masih diperlukan waktu berjalan kaki 10-15 menit untuk mencapai lokasi pengingapan yang dikelola oleh seorang antropologist wanita, warga negara Jerman, yang dibantu beberapa penduduk setempat.

Di penginapan ini tersedia 8 bungalow sederhana, tebuat dari kayu. Dilengkapi wc dan kamar mandi. Tidak ada air conditioner. Listrik tenaga diesel dihidupkan dari jam 5 sore hingga jam 10 malam. Makanan dan minuman tersedia, ditempat makan yang terpisah, dengan harga yang murah. Jam makan pagi, siang dan malam sudah ditentukan demikian juga posisi duduk di tempat makan. Menu makanan mayoritas menu penduduk setempat, dan menu makanan favorit setiap hari adalah menu masakan dari ikan laut.

Sungguh sesuatu yang mengejutkan bagi saya ternyata semua tamu disini adalah orang asing, kebanyak dari mereka datang dari Eropa dan sudah tinggal lebih dari seminggu. Kedatangan saya juga cukup mengejut mereka, karena jarang ada orang Indonesia yang menginap ditempat ini. Menurut mereka orang indonesia lebih suka tinggal di hotel yang mewah. Apa iya yah....? Kunjungan saya membuktikan bahwa mereka salah.

Pemandangan ke laut lepas dapat dinikmati sambil bermalas-malasan di depan Bungalow. Dibagian belakang ada jalan kecil menuju bukit yang cukup tinggi, dari atas bukit itu dapat terlihat pemandangan yang begitu indah. Hamparan pantai pasir putih dan gunung Dua Saudara yang merupakan daerah Taman Nasional Gunung Tangkoko. Setiap pagi dan sore hari, saya dan beberapa turis lainnya selalu pergi mendaki bukit untuk mengamati matahari, saat terbit dan terbenam.

Dari atas bukit ini kita dapat mengamati beberapa jenis burung. Pagi hari lebih didominasi oleh burung Gagak Hitam, sedangkan siang hari tampak sekelompok Elang Laut yang terbang melayang mengitari pinggiran bukit. Yang lebih menarik adalah kemunculan burung Ranggong dengan paruh besar dan sayap yang lebar, terbang melintas disisi bukit di pagi dan sore hari. Unik sekali, fenomena penuh fantasy seperti dalam film Jurasic Park.


Penginapan ini menyediakan 2 perahu motor yg dapat dipergunakan untuk diving atau berkunjung ke Taman National Tangkoko untuk mengamati Kuskus di malam hari. Ada beberapa lokasi diving yang baik disini, kadang Dugong masih dapat diketemukan disekitar perairan sini. Tapi saya dan turis lainnya masih tidak beruntung, karena selama penyelaman, mahluk yang langka ini tidak terlihat batang hidungnya.

Jika tidak menyelam, snorkling merupakan kegiatan yg cukup menyenangkan. Saya sempat snorkle di beberapa lokasi dengan pengunjung lainnya. Kadang kami pulang menuju bungalow dengan berjalan kaki meliwati perbukitan yang sangat indah. Walau kondisinya sangat kering karena musim kemarau, pemandangan diperbukitan pantai Pulisan ini sungguh indah dan sangat memukau.

Selain itu, bersama turis lainnya, dengan menggunakan peraho motor, saya berkunjung ke Taman National Tangkoko untuk melihat Tarsius, monyet kecil sebesar kepalan tangan dengan mata besar yang muncul menjelang malam hari. Sungguh suatu pengalaman yang tak terlupakan dapat melihat Tarsius dialam habitatnya.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. Setelah empat hari tiga malam saya tinggal di tempat yang tepencil ini, akhirnya saya harus putuskan untuk berpamitan dengan penghuni setempat untuk kembali ke Jakarta, meninggalkan semua keindahan dan keunikan alam di ujung utara pulau Sulawesi ini.

Pantai Pulisan memang indah... tempat yang layak banget untuk dikunjungi.. sayangnya hanya orang asing saja yang benar-benar menikmati indahnya alam di Ujung Sulawesi Utara ini..

AYO.. teman-teman...!! ditengok jo ngana pe kampung yang indah ini. Jangan sampai dirusak sama orang-orang yang tak bertanggung jawab...


"Si Tou Timou Tumou Tou - Baku beking pande"

Minggu, 29 November 2009

Liburan ke Selatan Tanah Pasundan

Minggu subuh, Lebaran hari kedua, tepatnya jam lima pagi mobil Jeep Landrover tua bergerak menuju Bayah, kota kecamatan didaerah paling selatan Tanah Pasundan. Arah jalan yang saya tempuh kali ini melalui jalur tol Ciawi dan Pelabuhan Ratu. Kami berangkat pagi hari, agar terhindar dari kemacetan yang sering terjadi di daerah pasar Cicurug.

Sesuai dengan perhitungan, kendaraan tua terus melaju dengan lancar saat melewati pasar Cicurug hingga Cibadak. Medekati jam sembilan, setelah melewati jalan yang berbelok-belok, naik dan turun, dengan jurang dan pepohonan dipinggir jalan, mobil akhirnya memasuki daerah Pelabuhan Ratu. Kami berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar, mengambil uang di ATM BCA dan belanja makanan ringan di Indomaret.

Hanya dibutuhkan waktu beberapa menit, kendaraan sudah melaju melewati pantai Pelabuhan Ratu. Tidak seperti biasanya, jalanan yang kami lalui masih sepi. Setelah melewati pantai-pantai dan pesawahan di Pelabuhan Ratu akhirnya kami pun beristirahat sejenak untuk menikmati pemandangan yang cukup memukau. Hamparan teluk Pelabuhan Ratu dengan ombak dan laut yang membiru dapat terlihat jelas dari jalanan diatas bukit yang kami lalui.

Perjalanan dilanjutkan menuju Bayah, kota kecamatan yang terletak dibagian paling selatan tanah Pasundan ini. Sungguh mengejutkan, ternyata jalanan menuju Bayah sudah diaspal mulus dan dapat dilalui oleh segala jenis kendaraan roda empat. Kondisi jalan yang mulus ini sangat berbeda dengan kondisi jalan dua tahun lalu yang rusak parah dan banyak lubang-lubangnya.

Tidak banyak pemandangan yang bisa dilihat sepanjang perjalanan menuju Bayah. Pantai sudah tidak terlihat karena jalan raya berada jauh dari garis pantai. Namun demikian, udara yang segar dan hijaunya pepohonan di sepanjang jalan membuat perjalanan ini terasa menyenangkan.

Mendekati Bayah ada jalan potong melalui desa Pantai Sawarna menuju Bayah. Dimana saya pernah mengajak teman-teman dari kantor BP untuk berjalan menelusuri hutan dan pantainya yang indah. Mobil tua saya belokan ke jalan ini menuju desa Pantai Sawarna. Jalan yang semula bagus makin kedalam semakin hancur. Memang saya sudah tahu akan hal ini, bahkan ditahun sebelumnya jalan ini hanya dilapisi batu saja dan belum pernah diaspal.

Kondisi jalan semakin buruk saat melalui jalan turunan dan tanjakan. Kami harus menggunakan penggerak empat roda agar kendaraan bisa kuat melewati jalan yang mendaki. Tidak lebih dari tiga puluh menit, jalanan semakin membaik. Kampung Sawarna dan pantai-pantai yang indah mulai terlihat dari atas bukit.

Dijalan yang datar mobil saya belokan memasuki kebun kelapa. Dari sini keindahan salah satu pantai yang terdapat di Desa Sawarna dapat dinikmati. Pantai Ciantir namanya, diberi nama demikian karena berada persis dimuara sungai Ciantir.

Saat mobil mendekati pantai, keponakan semuanya berdecak, terpukau melihat keunikan dari pantai yang indah ini. Pasir putih membentang luas, memisahkan sungai yang tenang dari samudra Indonesia yang menderu-deru. Sungguh suatu pemandangan yang belum pernah disaksikan dalam kehidupan mereka sebelumnya. ”Gile...!! Kalah nih pantai Pelabuhan Ratu dan Carita” : begitu ungkap mereka.

”Hati-hati main di muaranya”, saya bilang kepada ponakan, karena saya tahu masih ada hidup beberapa ekor buaya di muara sungai ini. Buaya di sungai Ciantir berukuran kecil, panjang sekitar satu meter dan biasanya takut pada manusia. Namun tetap kita harus berhati-hati, apalagi jika sampai bermain didekat sarang dimana buaya menyimpan telurnya sangat berbahaya. Buaya yang kecil ini bisa menjadi agresip menyerang jika merasa terganggu.

Setelah berjalan-jalan disekitar muara sungai Ciantir, kami segera lanjutkan perjalanan. Dari desa Sawarna menuju Bayah, kami melewati jalan menanjak yang cukup parah kondisinya. Sehingga kami harus menggunakan tuas penggerak empat roda. Tepat di dataran jalanan yang lebih tinggi, kami bisa melihat lautan yang membiru dan pantai-pantai dengan pasir yang putih.

Mobil kemudian meliwati hutan industri milik perhutani, dan tidak beberapa lama kami memasuki kawasan taman wisata Pulau Manuk. Banyak sekali mobil yang parkir disepanjang jalan, karena hari itu masih hari lebaran kedua. Biasanya pada hari lebaran kedua, penduduk disekitar Bayah dan Cikotok suka berwisata bersama keluarga, mebawa makanan dan bermain dipantai-pantai sekitar Bayah dan Malimping.

Karena ramainya pengunjung, terpaksa perjalanan kami lanjutkan langsung menuju Bayah dan Malimping sambil mencari makan siang. Sepanjang perjalanan dari Pulau Manuk menuju Bayah, kami disuguhi pemandangan pantai pasir dan pantai karang yang indah. Kendaraan kami melewati daerahh wisata pantai Karang Taraje, dimana pantai karang tersebut menyerupai susunan anak tangga. Unik sekali demikian komentar para ponakan. Ada banyak nama pantai disana, kami lupa mencatat nama-namanya.

Setelah makan siang di Bayah, kendaraan berlari kencang menuju barat ke arah Malimping. Disekitar Malimping juga banyak terdapat pantai-pantai yang cantik. Sayangnya beberapa pantai yang dulunya indah kini dijadikan tempat penampungan batubara yang sekarang menjadi primadona kota Bayah. Semua pantai itu hanya kami lalui saja, karena tujuan kami adalah menuju Pantai Bagedur, pantai yang sangat panjang sekali, dimana segala jenis kendaraan bisa berjalan dengan aman diatas pantai pasir. Kadang tempat ini suka dijadikan arena motor cross oleh anak muda setempat.

Seperti biasa, saya masukan lagi kendaraan melalui jalanan kampung, memasuki perkebunan kelapa. Beberapa penduduk memberi tahu kalau mobil tidak bisa melewati jalan pasir untuk menuju pantai. Tapi mobil tetap maju karena saya mengetahui akan kemampuan si Landrover mobil tua ku ini, dan saya sendiri sudah mengetahui kondisi pasir disana yang memang cukup parah bagi mobil biasa.


Benar saja, mendekati pantai, kontur tanah pasirnya sudah tidak rata lagi. Garis pantai tidak terlihat karena terhalang gundukan pasir yang sudah dipenuhi tanamanan yang membentuk bukit-bukit kecil. Tampak sekumpulan kerbau sedang memakan rerumputan yang tumbuh subur diatas pasir. Yang lebih menarik, ternyata ada beberapa kerbau berwarna albino. Jarang sekali ada kerbau albino.

Ke empat roda landrover tua terus berputar dengan pasti diantara gundukan pasir. Semua keponakan merasa khawatir kalau mobil ini tidak bisa melewati gundukan-gundukan pasir. Ketegangan makin menjadi, saat mobil tidak dapat berjalan meskipun roda sudah berputar-putar. ”Wah, bakalan dorong mobil nih. Berat banget, apalagi diatas pasir”, guman mereka dalam hati. Kerisauan merak akhrinya sirna setelah landrover, yang dirancang untuk kendaraan segala medan, dapat melalui semua gundukan pasir yang ada.

Melewati gundukan terakhir, mereka terpukau saat melihat pantai yang membentang panjang dengan ombak yang berderu silih berganti. Inilah pantai Bagedur, ombak yang menderu-deru artinya dalam bahasa setempat. Pantai Bagedur mungkin termasuk pantai pasir yang terpanjang di Indonesia. Saya sendiri belum pernah mengukurnya. Diperkirakan butuh waktu berjam-jam untuk berjalan dari ujung ke ujung pantai ini.

Dikejauhan tampak terlihat ramainya pengunjung yang mandi dan bermain dipantai. Selain pengunjung banyak juga pedagang makanan disekitar situ. Motor-motor dikendarai anak-anak muda berlalu lalang disekitar pantai.

Mobil terus bergerak diatas pasir menuju tempat yang paling sepi, dan kami menghabiskan waktu hingga sore hari. Mandi di laut sambil bermain ombak, hingga perut terasa lapar kembali. Untung ada yang jual mie rebus, jadi perut lapar bisa segera terobati.

Tidak terasa langit semakin gelap. Keindahan matahari terbenam yang kami nantikan tidak kujung tiba, karena cuaca yang terus mendung. Akhirnya kami putuskan untuk berangkat menuju rumah saudara di Cikotok dimana kami akan menginap.

Masih banyak lagi cerita yang belum kami tuturkan disini. Masih banyak lagi pantai disana yang belum kami kunjungi, semuanya indah dan masih asri. Semoga keindahan dan keasrian pantai yang ada saat ini dapat selalu terjaga selamanya.



"kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan"
~ ws rendra

Sand-dune Cibagedur

Sabtu, 28 November 2009

perjalanan bathin | Azan Magrib di Saigon

Suara Azan sudah tidak asing bagi ku, dan terus terang saja kalau semejak kecil, suara Azan subuh itu selalu mengganggu tidurku. Tapi aku menjadi terbiasa, dan berterima-kasih karena aku menjadi biasa untuk bangun dipagi hari hingga saat ini, mungkin juga hingga ajalku tiba.

Semakin tumbuh dewasa semakin aku mengerti makna dari Azan itu, tetapi tetap saja suara itu semakin mengganggu telingaku, saat berkumandang subuh dan sore hari. Terlalu banyak suara yang berkumandang melalui pengeras suara yang dipasang disetiap rumah ibadah didekat rumah ku. Cukup hirup pikuk suaranya, bak dengung gerombolan tawon yang saling sahut bersahutan. Tidak ada keharmonisan dari karya symphony yang maha agung itu.

Begitulah perasaan yang aku rasakan saat mendengarkan azan subuh di kota Jakarta ini. (Coba deh di test, jam 4 pagi nongkrong depan rumah).

Berbeda sekali dikala aku kecil. Alat pengeras suara masih merupakan barang yang mewah di saat itu. Pada masa itu, panggilan sembahyang tedengar melalui suara bedug yang dipukul bertalu-talu. Walau tampa pengeras suara Azan subuh masih tetap terdengar sayup-sayup dengan irama yang pasti. Namun tetap suara yang sayup itu dapat membangunkan seorang bocah kecil yang terlelap dalam tidurnya.

Hingga kini, aku selalu ingat akan kata dan irama nya, walau aku tidak pernah mencatat dan menghapalkannya.

Namun demikian, hingga saat ini, saat aku merenung di taman di depan rumahku, tetap bagiku suara Azan masih merupakan suara yang tidak enak kudengar. Di pagi hari maupun di sore hari. Seperti apa yang aku alami sore tadi, mendengarkan seruan Azan magrib hari ini. Terlalu banyak suara yang berkumandang.

Tetapi ada lagi cerita yang lain.

Pada saat aku mengadakan perjalanan di Saigon, sekembali dari kunjungan ke Guci Tunnel*. Aku dan teman-teman terjebak dikemacetan lalulintas di jalan Ha Bai Trung* yang padat kendaraan roda dua. Karena lelah dan bosan melihat emey-2* yang dandan unik dan seksi. Mengendarai motor dan helm yang matching warnanya. (Orang Vietnam memang rada modist, karena mereka dijajah sama Perancis cukup lama). Kami semua tertidur.

Cukup lama kami terjebak dan tertidur dalam mobil, tidak terasa sore hari mendekati gelap.

Dalam tidur ayam, dan hirup pikuk suara kendaraan bermotor. Sayup aku mendengar suara Azan berkumandang. Tetapi aku tidak yakin akan suara itu, karena jarang sekali ada mes jid di daerah Saigon. Namun karena suara itu semakin jelas terdengar di telinga. Aku bukakan mata dan melihat teman-teman yang masih tertidur pulas.

Langsung aku bangunkan mereka, dan memberitahukan ada suara Azan terdengar dijalan ini. Mereka terbangun, tapi herannya mereka masih tidak bisa mendengar akan suara Azan itu.

Tidak lama kemudian baru mereka dapat mendengarkan kumandang Azan magrib, karena ternyata mobil kita sudah mendekati satu mesjid kecil dipinggir jalan yang padat itu. Akhirnya kita minta kepada supir untuk berhenti agar teman-teman dapat melakukan sembahyang magrib di sore hari itu.

Walau aku tidak turut sembahyang. Aku duduk menunggu sambil mendengarkan keharmonisan tunggal dari dengung Azan yang aku dengarkan sore itu. Lembut dan merdu, diantara bisingnya bunyi motor.

Kumandang panjatan doa yang lembut itu, turut mengajak aku untuk berdoa dengan cara ku sendiri, agar aku dapat diberikan keselamatan di dunia dan di akhirat. Tidak lupa kudoakan juga kerabat dan orang-orang yang kukasihi. Ternyata Azan bisa mengajak ku untuk berdoa.

Entah kenapa hingga saat ini, dalam lubuk hati ku yang dalam, masih kurindukan suara Azan tunggal yang sayup dan merdu itu. Mungkin ada kenangan masa kecil yang terus terekam dalam otak kanan ku. Yang bisa membangkitkan ingatkanku, akan teman-teman kecil dan alam dimana aku dilahirkan. Mengingatkan perjalanan seharian, bermain di pematang sawah dan sungai-sungai bersama teman kecil saat bulan puasa, saat menunggu waktu buka tiba. Juga mengingatkan akan suara Azan dan bedug yang dinanti, di hadapan hidangan buka puasa yang siap menantang di muka meja. (Waktu kecil aku juga suka ikutan puasa, dan ibu teman sangat senang dan selalu mengajak berbuka dirumahnya).

Kadang aku berfikir dan bertanya pada diri dan bahkan teman ku: Mengapa sih Azan dikumandangkan begitu keras dan begitu banjak? Apakah Allah tidak mendengar doa mereka? Toh Allah yang disembah sama juga dengan Allah yang aku sembah. Kenapa sih begitu keras panggilan Azan itu....? Begitu tulikah umatNya untuk dapat menerima panggilan sembahyang yang sudah rutin mereka lakukan. Apakah di surga ada juga suara Azan...?

Hingga saat ini pertanyaan itu tidak terjawab oleh ku. Namun tetap aku rindu pada Azan tunggal yang menyentuh kalbu ku itu. Kapan yah aku bisa mendengar kembali kumandang Azan yang merdu di negri ku tercinta ini. Aku rindu akan Azan yang mengajak ku untuk berdoa.

Notes:
  • Guci Tunnel : Terowongan dalam tanah tempat perang orang Vietnam melawan Amerika dengan teknik lubang tikusnya
  • Ha Bai Trung : nama jalannya kayanya bukan ini, tapi biar terkesan di Saigon pake nama ini saja
  • Emey : Sebutan untuk gadis/putri Vietnan.
Tambahan : Selain di Saigon, suara Azan yang merdu tedengar adalah saat pulang turun gunung dan hendak mencapai perkampungan penduduk menjelang malam tiba.. Suara Azan terdengar sangat merdu menyambut kedatangan kami dan memberikan semangar untuk melangkah lebih cepat menuju keberadaban… Sambutan atas kerinduan pada kehidupan dari suatu petualangan yang cukup melelahkan.. Dan benar-benar aku sadari betapa Allah itu maha besar dan kita itu maha kecil. Manusia yang maha tiada dihadapan keagungan alam ciptaanNya.



Hoi An | kota Champa tua ditepi laut Cina Selatan.

Champa merupakan nama yang tidak asing di telinga kita. Nama Champa mengingatkan kita akan masa kejayaan kerajaan Majapahit. Salah satu istri dari raja Majapahit adalah seorang puteri Champa yang terkenal akan kecantikannya saat jaman itu. Selain itu Champa merupakan tempat kelahiran dari Sunan Ampel atau Raden Rachmat yang merupakan salah satu sesepuh dari Walisongo.

Dimanakah sebenarnya letak negri Champa itu? Dulu, Champa adalah kerajaan yang berdiri di abad ke-7, yang memiliki kekuasaan di daerah Vietnam tengah dan selatan. Konon leluhur dari bangsa Champa itu berasal dari pulau Jawa, yang hijrah ke Asia Tengah pada abad ke-2 sebelum masehi.

Pada jamannya, orang Champa dikenal keahliannya dalam hal bercocok tanam dan membuat bangunan. Hingga saat ini hasil karya bangsa Champa masih terlihat utuh, berupa candi-candi peninggalan masa lalu yang kini dijadikan object wisata yang menarik di negara Vietnam.

Champa dahulu dikenal sebagai kerajaan yang memiliki pelabuhan besar yang memegang peranan niaga yang penting di Asia Tenggara. Perdagangan rempah-rempah antar daerah banyak dilakukan dipelabuhan Champa. Oleh karenanya, Champa merupakan jalur penghubung penting dalam jalur rempah-rempah yang dimulai dari Teluk Persia sampai dengan selatan Tiongkok. Champa merupakan jalur pendistribusian, perdagangan bangsa Arab ke pedalaman Indochina. Pelabuhan terbesar di Asia Tenggara itu pada zamannya dikenal para pedagang sebagai kota Champa disebut juga kota pelabuhan.

Setelah mengalami masa pasang surut, akhirnya Champa dikuasai oleh kerajaan dari utara. Rakyat Champa menyebar ke selatan disekitar delta sungai Mekong, dan sebagian didaerah pegunungan Kamboja. Sekarang ini kota pelabuhan itu disebut Hoi An,yang artinya kota yang terletak di pinggir laut.

Pada masa perang Indochina dan perang Vietnam, banyak bangunan yang hancur akibat serangan bom tentara Amerika. Selama lebih dari seratus tahun dalam masa penjajahan Perancis dan Amerika, sebagai kota pelabuhan yang pernah berjaya di zamannya, Hoi An telah terlupakan. Demikian juga setelah mencapai kemerdekaan Vietnam dari Perancis dan Amerika, Hoi An tertinggal dari jauh dari kemajuan kota-kota lainnya di Vietnam.

Pada tahun 1999, kota tua Hoi An dinyatakan sebagai kota warisan dunia, menjadi contoh dari kota tua yang tetap bertahan dengan bangunan lama yang menggambarkan keutuhan arsitek jaman dahulu dengan gaya bangunan yang dipengaruhi negeri lain.

Saat ini Hoi An dikenal menjadi kota wisata bangunan tua. Selain memiliki bangunan yang unik, kota ini menyediakan berbagai cenderamata berupa ukiran kayu, lukisan cat dan juga lukisan sulaman yang sangat indah. Sebagai kota wisata pada umumnya, Hoi An juga memiliki berbagai jenis makanan yang lezat, semua ini dapat dijumpai disana. Makan malam di remang-remang kota tua sungguh terasakan romatika malamnya. Ini yang membuat Hoi An menjadi salah satu kota wisata yang paling memikat di Vietnam.

Jika anda menyukai mode pakaian, Hoi An merupakan tempat pilihan. Disini tersedia banyak penjahit ahli yang siap memberikan keahlian membuat bermacam model pakaian yang baik dengan harga yang sangat murah. Namun tetap, kehati-hatian dalam memilih bahan pakaian sangatlah diperlukan, untuk dapat menghasilkan suatu karya model pakaian yang indah bagi pembelinya..

Penduduk Hoi An juga dikenal keahliannya dalam membuat bermacam jenis lampu lantera yang indah. Pesta lantera dilakukan pada hari pertama sebelum bulan purnama. Biasanya acara tersebut, semua penduduk di kota Hoi An akan menyalakan bermacam lentera didepan rumah mereka. Salah satu acara yang menarik adalah melarungkan lantera ke sungai Thu Bon, sebagai persembahan doa untuk masa depan yang lebih baik.

Dipusat kota tua Hoi An, kendaraan bermotor tidak boleh dipergunakan. Hanya sepeda saja yang diperbolehkan masuk didalam kota tua. Suasana tersebut membuat pengunjung terasa benar terbuai ke masa silam, zaman dimana kendaraan bermotor belum di ketemukan.

Kota Hoi An dapat dicapai dengan menggunakan pesawat udara dari Saigon dan mendarat di kota Hue. Dari Hue, pengunjung dapat menggunakan bus selama 4 jam perjalanan menuju arah selatan selatan. Bagi wisatawan yang memiliki banyak waktu, perjalanan lebih menarik dapat dilakukan dari Saigon dengan mengendarai bus ke utara. Melalui kota wisata pinggir pantai Mui ne yang terkenal dengan padang pasirnya, dan melewati Na thrang tempat pelaksanaan mis Universe di tahun 2008. Kota wisata pantai yang merupakan Balinya Vietnam.

Untuk penginapan di Hoi An, banyak terdapat hotel melati dengan harga 1sekitar 10-15 US$ dengan fasilitas kolam renang, air conditioning dan wi-fi. Menu makanan berkisar Rp. 25,000 – Rp. 50,000 masih lebih murah dari restorant di daerah wisata di negri kita. Umumnya wisatawan datang dari Eropa dan Jepang, namun ada juga jumlah kecil dari negara tetangga lainnya.

Selain alam yang indah, senyum yang ramah dari penduduknya membuat kota tua ini selalu ramai dikunjungi oleh turis mancanegara. Masih banyak lagi tempat yang harus disingkap sayangnya bus antar kota sudah menanti untuk bergerak ke tempat lain di utara Vietnam. Tiga malam di Hoi An terasa begitu singkat. Semoga kota tua itu tetap lestari terjaga, tidak terlindas oleh kemajuan modernisasi. Hoi An, aku akan kembali lagi pada mu.

“if you're not willing to be changed by a place, there's no point in going." - Lao Tzu